Showing posts with label LOVE STORY. Show all posts
Showing posts with label LOVE STORY. Show all posts

Jadi Sehat, Cantik, Dan Aktif, Gampang Loh!

08 September 2019



Sebagai wanita yang pengen selalu tetap tampil sehat dan aktif, serta menarik, ada banyak banget kegiatan yang bisa saya lakukan. Ya buat mendukung gaya hidup saya sebagai seorang ibu dua anak dan seorang wanita yang ingin terus mengeksplor banyak hal. Pastilah kan butuh tenaga, waktu, dan kesiapan diri saat menjalani aktivitas seharian.

Banyak juga sih kegiatan yang saya lakukan agar tetap tampil prima. Misalnya dengan berolahraga selama tiga puluh menit sehari pada pagi hari. Eits jangan keburu gak yakin dulu, olahraga yang saya lakukan bukan olahraga berat sih semang, hehehe. Ya paling dengan gerakan yang ringan dan simple, namun dilakukan secara rutin dan tekun.

Selain itu saya juga ini udah mau berusaha untuk menjaga pola makan dengan baik, tiga kali sehari dan sesuai waktunya. Tau sih kemarin-kemarin sering telat makan, untung gak maagh. Makanan yang dimakan juga harus mengandung nutrisi yang dibutuhkan tubuh setiap hari. Nah hasilnya ya gitu yang bikin saya sering dinilai tampil ceria dan energik ketika melakukan aktivitas seharian.

Kemudian siapa sih yang gak pengen tampil cantik? Biasanya saya merawat kulit wajah dengan berbagai produk skin care yang cocok untuk tipe kulit saya, kalau gak cocok ya saya tinggalkan. Jadi emang harus kenalin dulu jenis kulit kita, kemudian melakukan perawatan alami juga sering saya lakukan, kayak pakai masker organik itu. Nanti saya bahas skincare rutin saya ya.

Ternyata nih ya menjaga kesehatan dan kecantikan gak cukup untuk mendukung gaya hidup kita loh. Sebagai seseorang yang ingin terlihat cantik dan energik, tentu aja saya memiliki kekhawatiran akan resiko kesehatan yang bisa datang kapan saja.

Sementara kalau kita gak lakukan persiapan diri sedari awal, dampak atau konsekuensi dari musibah tersebut akan semakin berat. Oleh karena itu untuk melindungi diri beserta keluarga, saya menggunakan asuransi.

Disadari atau tidak, ancaman bisa datang dari dalam dan luar diri kita sendiri. Sebagai seorang ibu, saya gak mau membiarkan buah hati dan suami khawatir terhadap masalah kesehatan saya. Bagi saya, kesehatan itu mahal harganya. Jika kita tidak menjaga dan melindunginya sejak awal, di masa depan kita akan sangat kesulitan nantinya.

Kita juga perlu tahu, prosedur kecantikan yang kita lakukan juga memiliki ancaman juga lho. Misalnya beberapa prosedur kecantikan yang kita lakukan ternyata membahayakan bagi kesehatan kulit karena tidak cocok atau ada kesalahan. Tentu dampak yang kita rasakan menjadi sangat besar. Misalnya mulai muncul penyakit atau gangguan kesehatan lain, kita menjadi tidak produktif, dan untuk biaya penyembuhan kita harus mengeluarkan sejumlah dana yang cukup besar.

Hal itu tentu memberatkan banget bagi kita, karena seperti yang saya bilang tadi kesehatan itu mahal sekali harganya. Saya pernah mendengar cerita teman, dia menjalani pengobatan hingga ratusan juta rupiah. Sedangkan dana yang dia miliki gak cukup pastinya. Walaupun punya dana darurat, siapa yang bisa memastikan musibah yang kita alami tidak memberi dampak yang besar?

Oleh karena itu, perlindungan diri dengan asuransi saya lakukan. Di masa mendatang, saya gak mau mengorbankan masa depan keluarga hanya untuk menjamin kesembuhan saya aja.

Ada banyak hal yang ingin kami lakukan. Mulai dari merawat anak hingga besar, menjamin pendidikan anak, dan kami tuh pengen banget juga berlibur ke luar negeri. Biaya yang dibutuhkan tentu besar, namun karena menggunakan asuransi saya bisa menjamin bahwa keuangan saya akan tetap sehat dan aman ketika musibah apa pun datang melanda.

Biaya besar untuk pengobatan akan ditanggung oleh pihak perusahaan asuransi. Hal yang perlu kita lakukan hanyalah fokus menjalani gaya hidup sehat untuk penyembuhan dan melakukan kegiatan seperti biasanya tanpa khawatir akan keluar dana dalam jumlah besar.

Saya sih sarankan untuk menggunakan asuransi sedini mungkin ya. Karena kalau kita mendaftar menjadi peserta asuransi, biaya yang dibutuhkan tidak akan sebanyak mereka yang sudah tua. Karena semakin muda kita, premi yang dibayarkan juga menjadi murah.

Selain itu kita gak boleh sembarangan dalam memilih perusahaan asuransi. Ini ada tips untuk kalian sebelum mendaftarkan diri ke asuransi :

  • Jangan tergiur dengan harga premi yang murah tapi fasilitas yang diberikan sangat terbatas. 
  • Lakukan riset kecil-kecilan terlebih dahulu sebelum memilih asuransi. Baik itu asuransi kesehatan, jiwa, dan lainnya.
  • Kemudian sesuaikan juga jenis asuransi yang dipilih dengan kebutuhan kita. Agar manfaat yang ditawarkan bisa kita gunakan sebaik mungkin. Karena untuk tampil cantik dan sehat itu mahal harganya. 


Yaya dan Adhar Wedding : Bukan Cinta Yang Menjodohkan, Allah Yang Menjodohkan.

09 March 2019
Asslamualaikum wr wb

Sering gak sih kalian punya rasa was-was gitu kalau saat hadir ke pernikahan teman atau keluarga, ada cerita "Dijodohkan ki bede ini..." 


Itu sih ya mungkin jaman dulu ya, kalau ada pernikahan terlaksana karena sebuah perjodohan orangtua, wajah pengantinnya kurang fresh dan selalu mengerut, atau biasanya orang Makassar bilang "Gamussui" kurang berbahagia. Karena dulu kebanyakan om dan tante saya foto-fotonya begitu, di pelaminan foto pengantinnya datar semua ekspresinya. Ternyata memang karena dijodohkan. 

Nah kalau jaman sekarang dengar ada yang djodohkan, gimana? Happy dongg... bahagiaaa super bahagiaa... kayak pasangan yang satu ini. 

Prosesi Lamaran | A'Sitappuki & A'pa'nassa

19 March 2018
Salam semua, 
Awal bulan February kemarin adalah hari yang paling membahagiakan sekaligus menggemparkan (kok bisa?* baca terus ya sampe kebawah. HAHAH) Jadi awal bulan february tepatnya tanggal 4 tahun 2018, adik saya yang ke-tiga dilamar sang pujaan hatinya, Buyana. 

4 bulan sebelumnya, Buyana sudah datang ke rumah memperkenalkan dirinya ke Papa dan Ummi. Kalau dalam adat Makassar ini namanya A'jangang-jangang (ayam-ayam-an) seorang lelaki yang berniat ingin melamar pujaan hatinya yang keturunan Makassar Gowa asli, harus datang sendirian dulu bertamu ke rumah. Tanpa mengutarakan niatnya secara gamblang, orangtua kami sudah 'akan' tau maksudnya. 

Waktu itu papa berpesan ke Buyana, "Kamu tau nak di sini... waktu kita bareng ke masjid aja, banyak pasang mata yang tanya-tanya siapa gerangan itu? Jadi, kalau memang niat baik, cukup satu kali ini saja datang ya..." Arti sebenarnya papa sudah "welcome" gitu sama Buyana, tentu saja setelah mereka berbincang dari Ashar sampai Magribh dan sampe Isha :)) dan maksudnya adalah kalau datang berikutnya artinya keluarganya yang datang. 

Benar saja, tanggal 28 Januari, rombongan keluarga Buyana datang melamar, tahap ini disebut sebagai prosesi "Massuro , Mae A'suro,". Awalnya keluarga Buyana sudah akan ingin langsung membahas tentang "Uang Panaik" tapi keluarga kami menahannya, karena belum menginfokan ke keluarga besar yang lain. Menurut Papa dan Ummi, tugas mereka hanya sampai pada menerima atau menolak lamaran, soalan memutuskan uang panaik, bukan haknya, melainkan hak seluruh keluarga besar. Kakek, nenek, om, tante, serta saudara per sepupuannya. Langkah itu dinamakan prosesi A'sitappuki / Mabicara Doe. Akhirnya Buyana diminta datang lagi selanjutnya. Keluarganya pun hanya mengambil jeda seminggu setelah massuro. 

Lalu bagian mana yang menggemparkan? 
Jadi dalam proses penantian seminggu itu, tentu saja Papa dan Ummi juga sudah menginfokan ke seluruh keluarga besar yang tersebar di berbagai penjuru Gowa :D dan inilah komentar mereka yang ikut berbahagia.
"Ih alhamdulillah tawwa wiya..."
"Wiya di? yang kedua iyya ? Wiwi iyya ? belumpi?"
"Nalangkahi Wiwi, kakaknya dii?"
"Jadi Wiwy dilangkahi dulu ini..."
"Enak Wiwi nanti kalau Wiya duluan dia bisa tarik uang panaik nya juga hehe.."

Disuatu pagi, tiga hari menjelang prosesi mabicara doe' Wiya dan Buyana, Om dan Tante mengajak Ummi berbincang, "Antekamma punna nipabbunting kambara'mo iyya? (Bagaimana kalau kawin kembar aja?) Ka kulangngere' anne Wiwi, sallomi nia' tu ero' passuroi... (Karena saya dengar, ada yang sudah lama ingin melamar Wiwi...) Mingka kau tahang-tahangi bedeng (tapi katanya kamu yang menunda.)

Entah bagaimana lagi ceritanya, yang jelas Subuh hari itu, hari dimana semua keluarga besar siap berkumpul, Ummi mendatangi kamar Wiwi. Intinya disitu Ummi meluluhlantahkan keegoisannya yang lalu-lalu dan menimang sebuah keridhaan untuk dihanturkan kepada Wiwi. Ummi memberikan izinnya pada Iwan, sang pujaan hatinya Wiwi, untuk datang melamar. 

Iwan sudah lama ingin melamar Wiwi, tapi tak beranjak langkahnya tanpa izin dari Papa dan Ummi. Dan pagi itu, begitu mendengar izin dari Ummi, Iwan langsung memberikan jawaban, dia dan keluarganya akan datang segera setelah acara mabicara doe'nya Wiya dan Buyana selesai. 

Allahu Akbar. Tangis memecah dari dalam kamar Wiwi, semua berkumpul saling berpelukan, Wiwi tak berhenti meneteskan air mata tanda terimakasihnya kepada Ummi saat itu. Akhirnya dia mendapatkan restu Ummi, hal yang sekian lama ia panjatkan doanya pada Allah SWT.

Keluarga besar mulai berdatangan, mereka diinfokan bahwa hari ini, Ahad 4 february, akan ada 2 proses mabicara doe'. Seketika semuanya gempar dan heboh, hehehe. Tapi acara lamaran di keluarga kami ini digelar sederhana saja. Wiya sudah menginfokan posisi keluarga Buyana yang sudah dekat. Kami semua sudah bersiap di rumah menyambut kedatangan keluarga Buyana dari Tello.
A'sitappuki / A'pa'nassa (Mabicara Doe')
Prosesi ini memakan waktu yang lumayan lama juga durasinya. Karena formalitas adat dan istiadat. Siapa saja yang menghadap tamu dan keluarga yang datang? Yaitu
  • Papa (Ayah pihak perempuan)
  • Para Datok (Kakek dan saudara kakek dari pihak perempuan. Sayangnya Datok kami sudah tiada sejak 2011 lalu, tapi saudara-saudaranya masih bisa hadir mendampingi Papa)
  • Para Paman (Saudara kandung dari Ayah dan Ibu pihak perempuan)
  • Para Saudara Kandung (karena saya bersaudara perempuan semua, jadi yang menghadap tamu, hanya ayahzam.)
  • Para Sepupu sikali dan Pindu (sepupu satu kali, dan sepupu dua kali)
Mereka semua menghadapi para tamu laki-laki/bapak-bapak yang dipercayakan mewakili pihak keluarga initi untuk bersama-sama A'pa'nassa dan A'sitappuki membicarakan uang panaik, serta tanggal dan tempat pernikahan. 

Sedangkan Ibu-ibu nya, duduk dibagian belakang. Yang berbicara hanya para Bapak-bapak saja. Ibu-Ibu hanya bersuara ketika ada pihak Bapak-bapak bertanya sesuatu. Sebenarnya saat prosesi ini yang hadir hanya pihak perwakilan saja, tapi saya lihat waktu itu, Ibu kandung Buyana ikut hadir juga. Mungkin karena Bugis dan Makassar Gowa agak berbeda sedikit ya, karena biasanya kami, Orangtua mempelai itu saling bertemu ketika prosesi "Mae matoang" saja. Tapi karena jaman now mungkin ya :D

Formalitas pertama dalam perbincangan prosesi ini, adalah tentang perkenalan. Pihak laki-laki memperkenalkan nama dan asal usul pihak laki-laki. "Ananda kami, Muhammad Buyana usianya 30 tahun, pekerjaannya Guru Pendidikan Jasmani dan Kesehatan di Sekolah Islam Athirah. Keluarga Bapaknya dari Enrekang, dan Ibunya dari Majene. Telah diterima pinangannya oleh kedua orangtua dari Widya Ayudiah. Untuk itu selanjutnya kami menghadap kembali ke sini untuk membicarakan proses lebih lanjut kepada seluruh keluarga besarnya,..."

Papa mulai membalas dan mempersilahkan para Datok untuk mempertanyakan "Uang Panaik"nya. Datok Tayang, saudara lelaki Datok kami pun mulai bertanya yang intinya "Berapa yang anda siapkan untuk uang belanja pernikahan?"

Setelah pihak keluarga Buyana menyebut Nominal, dan sudah ada persetujuan dari para paman dan sepupu, maka boleh lanjut membahas masalah waktu, tempat dan apa maharnya? Gimana kalau ada yang kurang setuju sama nominal uang panaik yang disebutkan pihak laki-laki?
Uang Panaik itu bukan Mahar !
Ini yang tidak akan bosan kami terangkan kembali, sebagai warga Makassar mungkin sudah paham betul ya tentang uang panaik atau uang belanja ini. Tapi mungkin ada pembaca blog ku yang belum mengerti. Kenapa ada uang panaik? Karena simbol adanya perjuangan yang harus dilakukan oleh seorang cowok untuk mendapatkan cinta gadis pujaannya yang ada di tanah Mangkasara'. HASYEEGG hihihi. Tapi memang menurut tradisi, cinta adalah hal yang mahal dan nggak bisa sembarang orang dapatkan. Terlebih jika gadisnya adalah yang punya kualitas tinggi yang diukur dari tingkat pendidikan dan keturunan keluarga. Tak sembarang cantik, tapi juga baik dan berkualitas. Itulah nilai yang diangkat di tradisi Panaik suku Bugis-Makassar.

Tradisi lain menyebutkan, Panaik adalah model dan pengejawantahan dari kebiasaan suku Bugis-Makassar yang memang seorang pelaut dari sononya. Mereka (para cowok) terbiasa untuk berkelana ke lautan luas untuk mencari rejeki dan sepulangnya dari melaut, mereka melamar gadis pujaan yang menunggu mereka. Ahay.. !

Jadi, lanjut lagi yang tadi, Gimana kalau ada yang kurang setuju sama nominal uang panaik yang disebutkan pihak laki-laki? Disinilah fungsinya prosesi ini. Kalau kedua orangtua sih sebenarnya ga perlu secara gamblang menyatakan bentuk protes sama jumlah uang panaik yang disediakan pihak lelaki, biasanya pihak keluarga besar yang memberikan informasi tentang "kurang"nya uang panaik. 

Beberapa waktu lalu, prosesi mabicara doe' sepupu saya, ada perhelatan saling protes mengenai jumlah uang panaik. Pihak lelaki hanya sanggup sekian, pihak perempuan meminta kesediaan pihak laki-laki untuk "menambah" dengan alasan, jaman sekarang apa-apa serba mahal, mau bikin acara nikahan itu nutuh biaya yang banyak dan biaya tersebut itu didapatkan dari uang panaik yang dibawa pihak lelaki. 

Kalau pihak lelaki sudah tiga kali ditanya dan tetap bertahan dikesanggupannya, maka salah satunya harus mengalah atau, pernikahan dibatalkan. Hiks. (Naudzu billahi mindzalik*) Tapi alhamdulillah kedua belah pihak memperoleh kesepakanan bersama. Belum ada sejarahnya di keluarga kami membatalkan permnikahan karena kurangnya uang panaik. Kedua belah pihak keluarga saling menghormati. 

Selanjutnya, setelah proses mabicara doe selesai, kedua perwakilan keluarga saling bersalaman untuk "Deal-dela-an" gitu. Dan saling memanjatkan doa kesyukuran. Langkah selanjutnya adalah A'pa'nassa dan A'nyikko. Memutuskan tanggal pernikahan dan melengkapinya dengan info mahar dan erang-erang (seserahan) yang akan dibawa. 

Nah bagian a'pa'nassa ini bagiannya ibu-ibu yang banyak ambil alih, hehehe. Dipilihkan tanggal yang baik, hari yang baik. Kami punya tetua adat yang bisa "melihat" hari baik tersebut. Ibu-ibu pihak perempuan berhak menyebutkan beberapa jenis seserahan, atau disebut dengan "Erang-erang" yang wajib pihak lelaki bawa nantinya. 

Kalau soal maharnya, pihak lelaki dipersilahkan langsung menyebutkannya. Biasanya Emas dan seperangkat alat sholat. Dan ternyata emasnya itu  harus bersyarat juga, gram nya harus ganjil ternyata, minimal 3gram, 5gram, 7gram, 11gram dan seterusnya sesuai dengan kemampuan pihak lelaki. Biasanya tersering sih itu 5gram, alasannya katanya "Ni pa ri limai dalleka" (Rejeki dipegang di telapak tangan*jumlahnya 5 jari) hihih seperti itu...

Nah biasanya kalau ada juga soalan tentang, kapan uang panaiknya mau diantarkan? namanya ini adalah "Panaik Leko' Caddi" prosesi dimana pihak lelaki, datang lagi seminggu setelah A'pannassa untuk mengantarkan Uang Panaik/Uang belanja kepada keluarga pihak perempuan. Sebelum akad nikah ya... nah kalau Bugis, prosesi ini dinamakan dengan Mappetuada'. Baru bisa dikatakan resmi Engegement  kalau sudah mappetuada gitu.

Tapi di keluarga kami, dengan alasan tidak ingin merepotkan keluarga pihak lelaki, datang bolak balik, dari Tello ke Gowa, maka panaik lekok caddi'nya(Uang panaik) sekalian dibawa pada saat panaik leko' lompo (Akad nikah/membawa mahar). 

Setelah semua sudah A'nassa (lengkap/rampung) Pihak keluarga perempuan membacakan kembali semua rangkumannya di hadapan pihak lelaki, apakah sudah betul yang dicatat atau ada yang mau ditambahkan atau dikurangi? Jika sudah selesai, kedua belah pihak saling bertandatangan atau berjabat tangan sebagai tanda prosesi lamaran sudah selesai di tahap akhir. Barulah dilanjut lagi dengan prosesi A'nyikko (Mengikat) 

Ibu-ibu dari pihak lelaki masuk ke kamar untuk menemui calom mempelai, Wiya. Yang boleh masuk cuma ibu-ibu hehehe. Buyana sebenarnya datang tapi gak diperbolehkan masuk, jadi dia nunggu aja di luar di parkiran HAHAH. Memang dikeluarga kami kalau tiap prosesi adat jelang pernikahan, kedua calon mempelai itu gak boleh bertemu sama sekali. Kalau liat jaman sekarang acara engagement di Makassar, banyakan si cowoknya juga ikut datang ya.. kayak di pulau jawa. Di Gowa, kami gak membiarkan hal itu sih. 

Ibu nya Buyana mulai memberi salam kepada calon menantunya dan segera menyematkan cincin passikko di jemari manis adik saya itu. Semuanya salam-salaman, salim, lalu makan-makan ehhehe.
pukul 14.00 rombongan keluarga Buyana sudah pergi meninggalkan rumah kami, langsung menghubungi keluarga Iwan, yang katanya akan berangkat dari rumahnya ba'dha Ashar. Sambil menunggu, kami beberes ruangan, bersih-bersih dan saya ganti jilbab aja hahahahaha. Formasi ruangan tadinya lesehan, kali ini dibuat duduk kursi saja. Pihak keluarga kami belum ada yang pulang, semua masih ikut menunggu untuk melanjutkan prosesi lamaran kedua untuk Wiwi, Massuro, sekaligus A'pa'nassa.

Wiwi yang awalnya menjemput rombongan keluarga Buyana tadi, langsung masuk kamar untuk prepare, dan Wiya yang sudah di sikko, gantian, dia turut dalam barisan penjemput hihihi. 

Badha ashar, keluarga Iwan sudah tiba, mereka ontime dan tidak menunggu lama karena rumah mereka juga ada di Gowa, hanya butuh waktu 30 menitan untuk sampai. Rasanya berbeda dengan suasana prosesi lamaran tadi waktu Wiya, kita sama sekali belum kenal dengan semua keluarga besarnya, kalau si Iwan namanya sudah biasa di dengar tapi itu yang bikin deg-deg-an semua keluarga, penasaran pengen liat keluarganya gimana, karena selama ini cuma mendengar lewat cerita-certia orang, belum pernah sama sekali ketemu langsung. 

Yang hadir semua adalah keluarga-keluarga inti saja, Ibunya, kakaknya, adiknya, dan tante serta sepupunya. Dan semua lengkap bawaan mereka sebagai bawaan untuk lamaran langsung lengkap juga. MasyaAllah, ada suasana haru saat menyambut mereka, tante saya gak berhenti keluar masuk kamar Wiwi untuk ngabarin kalau keluarga Iwan sudah duduk di ruang tamu, saya juga ikut-ikutan, hahaha bolak-balik kamar-ruang tamu, "Ini fotonya, ini yang datang..." Wiwi langsung bilang, "Iya ini Mamanya, kakaknya, adeknya..." 

Allah maha kuasa dan maha membolak-balikkan hati UmmatNYA. Akhirnya keluarga besar kami mempersilahkan keluarga Iwan untuk masuk ke rumah melamar Wiwi. Allah paling tau waktu yang paling indah untuk mengabulkan doa seseorang ^_^

Pembicaraan yang sama dengan prosesi lamaran Wiya, Kakak Ipar Iwan yang mewakili keluarga pihak lelaki mengemukakan semua maksud dan tujuan silaturrahim ini. Papa juga menjelaskan, tahapan melamar itu sebenarnya datang dua kali, tapi karena mumpung keluarga besar sudah berkumpul di sini, baiknya langsung saja membahas soal A'pa'nassa itu (uang panaik) dan segala persiapan pernikahannya. 

Sebelumnya, Papa sempat bilang "Saya tanyakan dulu ke anak saya, Wiwi ya apakah menerima lamaran ini atau tidak, silahkan omnya, coba tanya ke Wiwi nya di kamar..."

Om saya masuk ke kamar dan keluar lagi dengan jawaban, "Kata Wiwi, semuanya diserahkan ke keluarga besar sekalian..."

Seluruh keluarga besar ditanyai, semua jelas menjawab iya setelah mengetahui asal usul Andi Iwan yang dipaparkan langsung oleh kakak Iparnya. 

Dengan lancar masalah uang panaik langsung disebutkan oleh kakak iparnya dan dibalas oleh Datok kami, tidak lama mufakatnya, langsung pula membahas tentang mahar. Ada syarat permintaan khusus dari pihak keluarga laki-laki, yaitu akad nikah ingin dilaksanakan di Masjid. Langsung disetujui saja oleh Papa. Lebih lanjut lagi sampai proses penentuan jadwal akad nikah dan resepsi. Karena Wiwi adalah kakak, maka akad nikahnya dilaksanakan duluan daripad akad nikah Wiya, namun resepsinya akan dilangsungkan bersamaan. 
Hal yang mengharukan lainnya adalah, Tante saya punya adrenalin ke-kepoan yang memang luar biasa, dia meminta Iwan untuk masuk kerumah, katany abiar keluarga besar bisa liat dan kenalan, karena dulu Buyana kan sudah pernah datang A'jangang-jangan jadi sudah kenal dan dilihat, sedangkan Iwan ini baru pertama kali datang. 

Dengan alasan itu, akhirnya Papa dan Datok mengizinkan, mengajak Iwan masuk ke rumah, (gak boleh ke kamar tentunya hihi) untuk memperlihatkan sosoknya. Iwan pun masuk ke rumah, mulai dari pintu sudah salam-salaman, membungkuk a'tabe-tabe (permisi) dengan semua keluarga besar, sampai akhirnya dia duduk disamping Mamanya. 

Semua keluarg abaik yang lagi sibuk di dapur sampai merengsek juga ke ruang tamu ikut liatin si Iwan, sampe bahu saya sakit dicubit-cubitin karena mereka gemashhhh "Ihhh tawwa... gammaraki tawwa" 

"Ini mi pak, anakku, Iwan..." Mamanya Iwan  mengelus-elus punggung iwan, sambil sesekali mengusap airmatanya yang hampir menetes, Iwan juga kadang mengusap wajahnya, entah dia malu-malu, tegang, atau terharu bahagia. semua keluarganya tersenyum, kita pun terharu. Sama-sama kami memanjatkan doa sebagai bentuk rasa syukur atas kelancaran prosesi lamaran sekaligus A'pannassa ini. 

Selanjutnya, keluarga Iwan yang ibu-ibu dipersilahkan masuk ke kamar Wiwi, keluarga mereka juga sebenarnya penasaran dengan sosok Wiwi yang selalu diceritakan Iwan, wanita yang membuat Iwan tuh setia menunggu ridho dan restu keluarga untuk melamar Wiwi yang akhirnya kesampean juga. 
So, Ya, sekian dulu ya certia lamaran adik-adik saya. Nanti kalau ada waktu saya share lagi cerita-cerita saat prosesi jelang nikah sampai resepsinya ya hehehe.

Kalian mau baca juga gak cerita singkat waktu saya yang dilamar? hehehe silahkan klik di sini
Cerita saya nipassuroi (cerita saya dilamar)

Pertamakali Bertemu Suami

20 December 2017
Mungkin sudah banyak yang tau ya gimana cerita pertamakali saya ketemuan sama suami. Soalnya sudah sering saya tuliskan di beberapa postingan cerita nikahan saya tahun 2013 lalu. Atau mungkin juga dengar-dengar dari cerita teman dan keluarga kami, #halah sok beken amat ya? HAHAHA..

Yang kenal saya pasti tau sebagian kisahnya, gimana suami saya pertama kali ketemu saya. Tau gak kalau kehidupan itu seperti hujan, kita tidak tau tetesan mana yg membawa berkah dan bencana...seperti pula orang yang datang dalam kehidupan kita... seseorang yang kita tidak tau bahwa kelak, bersamanya lah kita mengahbiskan hidup untuk Ibadah. :)

Jadi tanggal 4 Juni 2013, Saya sama sekali tidak akan menyadari kalau hari itu, akan datang dua orang cowok ke rumah saya. Sore hari tepat pukul 16.00 wita, saat saya sedang bersiap mau pergi ke event. Udah pakaian malah nih sisa mau manasin mobil. Waktu itu saya sadar sih, di ruang tamu, ada papa yang sedang menyambut kedatangan stafnya. Sambil saya ribet keluar masuk kamar nyari jilbab dan lipstik yang sering terbang (entah dengan sendirinya atau gimana) ke kamar adik atau kamar ummi :p 

#SannengTalks 12 Ngomongin Soal Keuangan Rumahtangga

13 November 2017
Salaam semua
Postingan #SannengTalk kali ini agak sok-sok lah ya hahaha tapi perlu teman-teman sekalian ketahui, wanita yang sudah berstatus istri, apalagi, ibu, wajib hukumnya tau akuntansi. Karena saya nih ya mau tidak mau, sadar atau tidak, ternyata saya sedang belajar akuntansi tiap hari. Jadi manager keuangan rumah tangga saya sendiri.

Waktu masih anak-anak, kalau mau ke sekolah minta uang jajannya sama Ummi pasti kan? Yang megang uang itu sepenuhnya adalah Ummi. Semenjak saya menikah, Ummi sudah ceritain tuh tentang sistem manajemen keuangan rumah tangga ala beliau. Jadi semua gaji papa yang sebagai PNS (Pegawai Negeri Sipil) di serahkan ke Ummi, jaman sebelum ada ATM, papa bawa uang cash ke Ummi dan semua uang yang masih dalam amplop itu diserahkan ke Ummi. Papa cuma dapat jatah bulanannya aja untuk akomodasi. Dengan catatan ya semua kebutuhan rumah tangga ya Ummi yang atur.

Rumah Tangga Jauh Dari Keluarga Besar VS Dekat Dengan Keluarga Besar.

25 September 2017

Di keluarga saya, tempat tinggal sanak saudara semuanya berdekatan, satu dusun masih termasuk keluarga semua, Khusus keluarga Ummi, kalau ada yang menikah, pasti saudara-saudaranya siap-siap bangun rumah di sekitar situ juga. Ada tanah yang disiapkan dari mendiang Datok-datok kami. Jadi kurang yang bisa kena dengan istilah "Istri ikut suami" yang ada malah "Suami ikut istri" atau pokoknya harus tinggal di sekitar situ. Sama kayak Papa saya, yang semua keluarganya bermukim di Tamalanrea, dan sekitar Makassar, Papa saya anak lorong, anak pelosok kota banget, setelah menikah dengan Ummi, ya harus tinggal ke kampung halaman ummi. Begitu lah kampung halaman memang ya, sepanjang jalan, rumah-rumah masih terbilang sanak keluarga sampai sepupu-sepupu saya menamainya dengan dusun cendana #Halah AHAHAH

Saya anak pertama dari empat bersaudara, dan juga paling pertama menikah. Karena sempat menjalani LDM (Long distance marriage) saya gak tinggal di mertua yang ada di Pare-pare, tapi tetap tinggal di rumah ummi di Gowa, dusun cendana, jadi begitu suami datang, tibanya langsung ke rumah ummi. Sampai akhirnya saya harus ke Jakarta ikut suami ke sana, berumah tangga di sana. Tapi jujur, rumah tangga kami, meskipun jauh dari keluarga besar, kami masih dibayang-bayangi bantuan orangtua. Sorry, bukan materi atau uang ya. Suami saya alhamdulillah sudah lebih dari cukup untuk membiayai rumahtangga kami.

#SannengTalks 6 : Ngapain Aja Dalam 24/7

28 August 2017

Salaam semua, gak terasa sudah #sannengTalks 6 aja nih kolaborasi kami bertiga, hehe. Kali ini giliran saya yang memberi tema, tapi sayangnya saya gak sempat menyelesaikan dan ikut share link bareng, karena kemarin tuh mendadak diajak liburan sama suami hihiw. Jadi tuh awalnya saya kepo aja gitu sama kegiatan kak Ery dan Kak Awie seharian ngapain aja sih? HAHAHAH jadi semacam kayak pacar aja minta dikabarin 24/7 kan ga mungkin yak, siapa saya! wkwkwk makanya saya minta mereka merangkum kira-kira dominan aktifitas mereka dalam sehari selama seminggu berulang itu ngapain aja? hihihi. Bisa baca jawabannya di sini
So. ya gimana dengan saya sendiri? Biasanya pagi hari sampe pagi lagi itu ngapain aja? ada yang kepo gak kalau saya? Atau biasanya juga ada yang suka nebak iseng kalau saya ini emak eksistensinya besar di luar rumah, jarang di rumah dan hobby titipin anak ke neneknya. WKWKWK. Sok tau ya :p hihihik . Well saya tulis aja juga, setidaknya postingan ini saya simpan buat duozam nanti hihehe.

Menjaga Wibawa Suami

20 May 2017
Awal menikah biasanya anak gadis selalu dapat suguhan atau wejangan tentang nasehat-nasehat bagaimana cara menjadi istri yang baik untuk suami. Saya sendiri pun sejak pertama menyandang status seorang istri, biasanya mendapat nasehat seperti itu dari tante, sepupu, dan kerabat lain yang sudah jauh lebih dulu membina bahtera rumah tangga. Berbeda dengan Ummi yang sebetulnya tidak terlalu banyak memberikan wejangan seperti itu. Kenapa? Ummi tidak serta merta memberikannya semua ke saya.

Suatu hari, setahun pernikahan saya (kurang lebih ya) saya sedang ada di rumah Ummi, ikutan berkumpul sama tante di teras. Mereka sedang membicarakan sepupu saya yang cowok, yang baru beberapa bulan menikah. 

"Jengkel ku liatki itu anak datang pegang tas cewek, baru banyaknya lagi orang di situ..." celoteh tante Ida.

Antara Traveling dan Holiday

27 November 2016
Istrinya jarang travelingan, tapi suaminya suka traveling. Repot gak kira-kira tuh ? hahaha… 
Yup saya ini sama sekali belum banyak makan asam garam kalau soal traveling, jangankan keluar kota, dalam kota saja saya jarang bepergian. Kalau ungkapan “kurang piknik” sudah ada sejak dulu, maka saya lah yang kena. Iya memang saya ini jarang piknik di luar kota. Saya suka bosan perjalanan jauh, dan kurang asyik diajak kalau berkendara jauh. Waktu SMA saja ada liburan khusus ramah tamah perpisahan, ke Malino, tidak dapat izin dari alhamrhum Datok saya waktu itu. Hihihi ya kebanyakan juga sih memang Karena tidak diizinkan jadinya berimbas ke pribadi saya yang akhirnya malas melakukan perjalanan jauh. 

Jangan Jadi Istri Over Sharing

14 November 2016
Tahun ini usia pernikahan saya memasuki yang ke 3 tahun, masih terbilang seumur jagung memang, pengalaman yang kami kecap selama ini belum apa-apa dibandingkan dengan jalannya pernikahan Mbak, Kakak, dan teman-teman skalian yang sudah belasan tahun, menempuh golden age anniversary, atau setengahnya mungkin hehe. Lingkungan pertemanan saya tidak berbatas ke yang seusia saya saja, saya juga berbaur dengan kakak-kakak keren yang usia pernikahannya sudah belasan dan puluhan tahun dari saya. Saya biasa dapat wejangan-wejangan penting dari mereka, tentang bagaimana menjaga keharmonisan rumah tangga, hubungan dengan suami, mertua, ipar, merawat anak, dan lain sebagainya. Tentunya ini setelah Ummi dan tante-tante saya :) 

Alhamdulillah juga genap setahun saya dan suami tidak LDR-an, menetap di Makassar. Sudah tidak jauh-jauhan lagi kayak 2 tahun kemarin, bolak-balik Jakarta-Makassar hehehe. Tapi ya semuanya bisa di handle kok, sebagaimana kita ketahui, sekarang tuh sudah masuk era digital, social media pun sudah banyak yang jadikan sebagai profesi. Cinta bisa bersemi, jadi menikah, dan lain sebagainya juga tidak lepas dari bantuan digital. Apalagi kalau cuma pisah jarak, bisa telponan, whatssapp-an, line video call, dan saling stalking timelline sosmed masing-masing. 

Perihal sosmed ini, saya dan suami punya kesepakatan penting, suami tidak menghalang-halangi saya bersosmed, tapi suami saya punya aturan yang dia terapkan untuk saya. Apa saja itu ?

Duozam dan Gadget

27 October 2016
"Bundaaaaaaa.... Gantiii!!! Gantii!!!" 
Teriakan itu terus melengking kalau saya tak beranjak segera setelah Abangzam meneriakkannya. Itu artinya dia sedang menonton youtube di smartphone saya, dan di tengah jalan videonya, Abangzam bosan dan ingin ganti ke channel lain. Dia belum bisa mengganti sendiri, dia cuma tau simbol play dan kalau itu ditekan, video terputar. Selain itu dia masih minta tolong saya. Saya sudah beberapakali sih mengajarinya, tapi kadang dia masih bingung antara simbol play dan simbol next, dia lebih senang langsung menekan simbol play, dan video yang terputar itu lagi itu lagi, dia pun marah. Tantrum pun tak terelakkan, smartphone dibanting karena tidak sesuai dengan keinginannya. 

Semua video channel youtube yang memang khusus edukasi anak, saya save offline di smartphone. Jadi masih bisa memutar walaupun mobile data mati, hemat kuota! Sejauh ini sudah ada 52 video yang saya save offline. Saat smartphone saya dipegang Abangzam dan Si adiknya, saya hanya membukakan video offlinenya. 

open offline video 1 : terputar ... belum lima menit.. "Ganti Bunda,,. Ganti!!"
open offline video II : terputar... baru semenit, "Gantiiiiiii..."
open offline video III : terputar... "Gantiiiii, teja' ini... gantiiiiii"
Kembali tantrum! Begitu terus sampai video ke 20an baru dia tenang, itu pun videonya tidak semua selesai dia nonton. Jadilah offline video yang terkumpul itu tidak efisien lagi. Mobile data harus on, dan dia bisa ganti sendiri kalau youtubenya online LOL!! 

Kenapa Duozam bisa lengket sama gadget ?

Ayahmama With Maraja

25 October 2015

Maraja sekarang usianya 5 bulan 2 minggu
Nanti tiap tanggal 13 baru masuk lagi usia bulanannya.
Maraja 4 hari kemarin sakit demam flu dan batuk, jadinya loyo dan lesu. Padahal sebiasanya aktif senang dan riang gembira senyam senyum sendiri. Maraja biasanya kalau demam cuma sehari, besoknya balik lagi happyhappy. Baru kali ini sampe di bawa ke dokter periksa dan di Uap. Dikasih obat puyer juga, gak suka Marajanya minum obat, mukanya mengernyit, tapi kata dokter obatnya boleh dimuntahin biar keluar sama lendir-lendirnya. 
Syukur alhamdulillah hari ini Maraja sehat kembali. Ceria kembali, main sama abangnya semangat lagi. Ayahmama dan Datoknenek tak galau lagi

October Together

22 October 2015
Assalamualaikum wr.wb.
Alhamdulillah tanggal 18 oktober kemarin, tepat dua tahun sudah saya dan suami mengarungi bahtera rumah tangga. Masih seumur jagung memang :) tapi kami akan terus menjaga semangat kami untuk menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah dan warahmah. Aamiin.
Dua tahun pernikahan diberi langsugng dua jagoan yang lucu, lincah, dan menggemaskan kian harinya. Tentunya juga bikin kewalahan HAHA. saya mau Flash back kembali soal hijrah ikut suami ke tempatnya bertugas, di Jakarta. Awal November tahun lalu saya resmi di boyong ke Jakarta sama suami, dan bawa anak, juga dalam keadaan hamil anak kedua usianya masih 8 minggu sih. 
Namun tidak sampai beberapa bulan, dari November ke Februari saat usia kandungan saya memasuki terimester kedua, saya di serang flu berat dan batuk kering yang membuat saya lemah letih lesu lunglai, sementara saya harus tetap kuat dan sehat untuk menjaga abangZAM juga yang lagi lincah-lincahnya waktu itu di usianya yang ke 7 bulan, sudah mulai makan, jadi harus juga siap membuatkan makanannya yang gak boleh telat, memang ada sepupu saya yang membantu menjaga, tapi sayanya berat mengurus diri sendiri, jadinya suami berpikiran agar kami kembali dulu ke Makassar, di sana banyak yang rawat.

Lasugi atau Wala Suji

16 October 2015
Assalamualaikum, readers :)
Dalam rangka menyambut hari Anniversary pernikahan saya yang ke dua tahun, saya mau menuliskan kembali tentang proses "ribet" dan "seru"nya segala sesuatu persiapan menjelang hari pernikahan saya, hari dimana saya akan memasuki kehidupan baru. Excited dong? iya lah soalnya masih serasa gak percaya, akhirnya menikah!! atau menikah juga saya!! HAHAHA* dan yang paling penting adalah, alhamdulillah ada seseorang yang dengan jalan halal mempersunting saya menjadikan saya sebagai seorang istri. 

Beberapa hari saat masuk bulan Oktober, di sosmed saya sudah share kembali sih mengenai proses pembuatan undangan dan cerita dibalik design undangan saya, postingannya di sini nih :) selain itu ada juga saya menulis tentang adat mangerang undangan (adat membawa undangan).

Nah kali ini saya mau menuliskan yang kelupaan saya bahas, hehehe sudah lama saya mau bahas ini, tapi masih kurang bahan tulisnya, soalnya kalau saya wawancara ke para Datok saya, pakai bahasa mangkasarak jadi agak sulit saya tuang ke dalam EYD hahaha! tapi bersyukur kali ini sudah ada, karena bantuan dari beberapa teman-teman di group Anging Mammiri, blogger Makassar ^^

Bagi yang pernah menghadiri suatu hajatan pernikahan orang Makassar atau Bugis, pokoknya di Sulawesi gitu, pasti pernah liat suatu Baruga (gerbang) yang menjulang tinggi seperti bangunan mini di depan pintu masuk kediaman pengantin kan? nah gerbang ini dikenal dengan nama Lasugi (orang Gowa menyebutnya begitu) atau Wala Suji (Orang Bugis menyebutnya begitu). 

Lasugi ini terbuat dari anyaman bambu. 

Kenapa lasugi harus menggunakan pohon bambu? karena pohon bambu dipercaya memiliki makna filosofi. Pohon bambu adalah sejenis tumbuhan yang sangat berguna bagi kehidupan manusia. Ada satu sisi dari pohon bambu dapat dijadikan bahan pembelajaran bermakna, yakni pada saat proses pertumbuhannya. 

Pohon bambu ketika awal pertumbuhannya atau sebelum memunculkan tunas dan daunnya terlebih dahulu menyempurnakan struktur akarnya. Akar yang menunjang ke dasar bumi membuat bambu menjadi sebatang pohon yang sangat kuat, lentur, dan tidak patah sekalipun ditiup angin kencang. Lebih jauh memahami filosofi pohon bambu tersebut, dihrapkan sama dengan kehidupan sang pengantin nantinya.

Bagi masyarakat Bugis-Makassar, lasugi, dipakai sebagai acuan untuk mengukur tingkat kesempurnaan yang dimiliki seseorang. Kesempurnaan yang dimaksud itu adalah keberanian, kebangsawanan, kekayaan, dan ketampanan atau kecantikan.

Resepsi Pernikahan | Islamic Wedding Theme

25 November 2013
Assalamualaikum wr.wb
halooo... apakabar semua? walafit ya semoga semua sister brother fillah :) aamin
di enam minggu hari pernikahan saya dan suami baru saya sempat memposting yang bagian resepsinya nih hheheh. untuk thema resepsi pernikahan saya memilih "Islamic wedding reception" biar ada refresh nya setelah dua hari berturut dengan pakaian Adat Bugis-Makassar, jadilah di malam resepsi themanya dibuat berbeda. Malam itu ba'dha magribh di hari yang sama setelah akad nikah, resepsi dilaksanakan di Gedung Haji Bate sungguminasa gowa. jl tumanurung no 11. dengan dekorasi yang beuaty minimalis. 
silahkan sambil diliat dulu ya postingan foto-foto suasana resepsi pernikahan saya ini :) 
ucapan dari Pak Walikota, sebenarnya saya mengundang ibu Aliyah (istri pak walikota yang juga sering aktif di berbagai organisasi kemuslimah-an hampir setiap event kami berjumpa dan akhirnya saling mengenal) tapi malam itu beliau berhalangan hadir jadilah sebatas mengirim ucapan selamat. jazakillah

adik adik dan sepupu :) kesepakatannya pink silver seragamnya yg kemudian mereka design sesuai karakter mereka masing-masing ^_^ makeup dan hijab by Ariqah Muslimah. jl. bontomangape no 17

everybody know whos them. yup my parents hhehehe. papa dan ummi menyeragamkan baju sesuai dengan gaun saya, berbeda warna dengan seragam keluarga yang lain yang dominan pink silver.

kemudian para tamu berdatangan, ucapan salam dan jabatan selamat berangsur dilakukan, waktu itu perasaan saya agak sedikit lemas karena kecapekan dan harusnya saya makan dulu sebelum duduk dipelaminan tapi entah kenapa makanan gak ada yang mau turun hahahah tapi alhamdulillah semuanya berjalan dengan lancar, saya bisa menyapa para tamu dengan tetap tersenyum bahagia :) karena memang kebahagiaanku malam itu mengalahkan rasa lemas tubuh :D
                                


 

gaun saya di produksi oleh Shimmer management, saya tinggal membawa design gaun pengantin yang saya mau ke mbak wulan dan kemudian hasilnya bikin senang banged ^_^ makasih...
makeup by Wardah cosmetik 
Hijab by Ariqah Muslimah
photo by D'blur Photography
PhotoBooth by D'Qshees

Auto Post Signature