Duozam Daily : Beli Mainan Yes Or No ?

27 July 2017
Haloo semua.
Postingan kali ini mau cerita-cerita soal duozam dan mainannya. Duozam mengenal segala macam bentuk mainan itu dari usia 2 tahun abang dan setahun maraja, saat mereka diberi banyak kado ulangtahunnya. Alhamdulillah banyak yang sayang sama duozam. Saat sesi buka kado, saya sama datoknya sampai capek menjelaskan nama mainan itu heheheh ada mobil truck, boneka doraemon, senjata panahan, pistol, sampai mainan golf dan billyard pun ada.

Keesokan harinya, duozam mulai memainkan mainan yang biasa dia lihat dikesehariannya, misal :
  • mobil-mobilan
  • senjata-senjataan
  • bola-bolaan
  • boneka kartun
Saat itu cuma ke empat macam itu yang sering diambil mainannya untuk dimainkan, ketika bosan mereka mulai menengok mainan lain yang belum pernah mereka mainkan, misal :
  • Robot-robotan
  • lego
  • mainan golf
  • mainan bilyard
  • roger
Akhirnya semuanya mau dimainkan dan dibongkar, saat itu malahan mereka sampai merusak semua mainannya. HUHUHU hiks... T_T dipukul-pukulin ke lantai, dilemparin jauh-jauh. Mungkin sudah sering saya cerita kalau beli mainan harus dua yang sama persis, kalau tidak bakalan memicu perang saudara HAHAH. 

Kalau saya termasuk mama yang gak sempat bikin DIY mainan sendiri buat anak, entah gak sempat atau memang gak bisa atau memang malas ya T_T huhuk, belum tau pastinya, mau nanya ke dalam hati sanubari dulu (jiahhaha*) atau saya cuma berpikir pengen yang simple aja selagi memang bisa beliin mainan. Kupikir juga kalau beli bahannya, bikin di rumah, yang ada malah duozam berantakin dan grasagrusu saat ngerjainnya dan akhirnya gak beres-beres. Kadang ngiri sama mama-mama yang setip saat bisa poating hasil DIY nya di sosmed dan video main bareng anaknya dengan hasil DIY mainan itu. Memang sih di usia duozam sekarang ini saya belum mau produktif buat DIY-an karena mereka lagi masa senang membongkar hihi. Mungkin nanti kalau mereka sudah TK liat mainan di sekolahnya, baru saya berjuang untuk DIY-in mereka mainan yang mereka mau. [negelesss*]

#SannengTalks4 : Bahagia Tidak Sesederhana Itu.

24 July 2017
Saya pernah nonton film jepang. Waktu saya masih SMA, Film remaja sih, saya lupa judulnya apa, tapi sampai sekarang saya masih ingat ceritanya. Ada seorang cowok anak SMA, anggap saja namanya Lee. dia anak sulung dari 5 bersaudara, adiknya masih kecil-kecil semua, di rumahnya yang kecil kumuh cuma ada ibu dan ke empat adiknya. Ayahnya masih hidup, tapi jarang pulang ke rumah, entah dimana mengembara. Lee menjadi tulang punggung keluarganya sekarang, pulang sekolah dia bekerja paruh waktu, malam tiba, dia pulang ke rumah hanya untuk membawa makanan, kemudian lanjut lagi perkejaan lainnya sampai dini hari, bangun pagi langsung ke sekolah. Begitu seterusnya. 

Sampai suatu hari, dia menang undian gitu, dan mendapatkan hadiah rumah yang mewah, ada seorang teman kerjanya yang bisa membantu mengurus segala surat-surat sampai rumah itu sah menjadi miliknya. Rumah mewah itu bertempat jauh dari lokasi tempat tinggalnya dipinggiran, rumah mewah itu berada di tengah kota. Pindah lah mereka ke sana, sekolahnya juga pindah. Senang dong mereka, bahagia mereka akhirnya bisa memiliki rumah mewah, adik-adiknya bisa menikmati fasilitas kolam renang dan makanan yang banyak di dalam rumah itu. Melihat itu, Lee ini bahagia. Tapi tetap ada yang kurang... 

Akhirnya dia bertekad mencari ayahnya, saat menemukan ayahnya, dia mendapati ayahnya sedang bermain musik di pinggir jalan. Lee mengajak ayahnya pulang. Ayahnya seorang musisi, dia menikahi ibu Lee saat usia muda dan melahirkan Lee serta adik-adiknya, kemudian pergi mengembara bermain musik. Kenapa? seperti ayah yang tidak bertanggung jawab ya... 

"Ayah takut kalau ayah tidak mencari kebahagiaan ayah sendiri, ayah akan menyiksa Ibumu..."

Begitu kata ayahnya saat diajak pulang, dan ternyata... Ibunya Lee yang mengizinkan ayahnya untuk pergi mengembara dengan musiknya itu. Ayah Lee orang yang baik, dia juga terkadang pulang untuk menengok Ibunya Lee dan adik-adiknya, tapi tidak memperlihatkan diri dihadapan Lee karena takut Lee belum mengerti dan menganggap ayahnya, orang yang tidak bertanggung jawab. Ayahnya memang menunggu, menunggu sampai Lee paham... Apa itu Bahagia.

"Apa kamu bahagia Lee?" Tanya ayahnya

Terang saja Lee sebagai anak yang berbakti, menjawab "Iya ayah, aku sudah cukup bahagia melihat ibu dan adik-adik bahagia di sana, di rumah mewah itu..."

Ayahnya hanya tersenyum, dan berkata, "Lee... tanya kembali hatimu yang paling dalam, apakah kamu bahagia?" kemudian ayahnya berlalu pergi kembali. Lee termangu ditempatnya (scene di sini yang paling saya suka*)
Yup, hanya hal kecil yang bisa kita pikirkan yang membuat kita senang, kita sudah bisa defenisikan itulah bahagia. Dari film itu saya bisa menangkap kalau sebenarnya perasaan bahagia itu tidak begitu mudah di dapatkan.

Lee mungkin merasa bahagia akhirnya dia tidak perlu kerja keras lagi untuk memperaiki rumahnya di pinggiran kota, sekarang dia punya rumah mewah, mobil dan cukup uang tunai untuk membiayai sekolah adik-adiknya. Dia sudah punya segala yang dulu dia inginkan untuk Ibu dan adik-adiknya.

Saya lanjut lagi ya cerita filmnya.

Lee jadinya berpikir untuk terus melakukan pertemuan rutin dengan ayahnya, saat mereka kembali ketemu, ayahnya kembali bertanya. "Apakah kamu bahagia Lee?" Kali ini Lee tidak langsung menjawab, seperti ada yang terserak di dadanya belum bisa dia ungkapkan. "Ayah..., bahagia itu apa?"

Yup itu pertanyaan pentingnya, semu orang mungkin bisa mencari kebahagiaan, tapi pertanyaan pentingnya adalah "Apa itu Bahagia?" sebagian orang mungkin bisa bilang bahagia itu kalo punya rumah gede, mobil keren dan uang jajan berlipat ganda, bisa kemana-mana dengan mudah, mendapatkan apa saja dengan mudah. Tapi apakah orang yang gak punya itu semua, tidak bahagia??

"Lee.. Ibu mu dan adik-adikmu senang di rumah itu, pernah kamu tanyakan mereka, apa mereka bahagia? Mereka senang belum tentu mereka bahagia. Dan kamu Lee, carilah bahagiamu sendiri."

Akhir certianya Lee dan keluarganya kembali ke rumah lamanya :D Bisa teman-teman pahami kan? kita senang, bukan berarti kita bahagia.

Semakin kesini, di usia saya yang sudah 29 tahun ini, saya jadi paham perbedaan senang-senang dan bahagia itu sendiri. Kadangkala kita hanya senang-senang tapi tidak benar-benar merasa bahagia di situ.
Ah ungkin saya terlalu berpikiran serius kali ini ya hehehe, defenisi bahagia itu banyak memang ya, boleh deh postingan #SannengTalks kali ini dijadikan threat buat membahas defenisi bahagia versi teman-teman masing-masing.

Jangan lupa baca juga tentang BAHAGIA versi
kak Ery dan kak Awie


Ditunggu komentarnya ya teman-teman tentang BAHAGIA versi kalian, sampai jumpa di #SannengTalks berikutnya.

Event Report : Launching Aplikasi Sobatku di Makassar

22 July 2017
Halo semua, 
yang sering liat instastory ku pasti udah tau tentang SOBATKU ini. SOBATKU singkatan dari “Simpanan Online Sahabatku” adalah rekening simpanan online berbasis aplikasi yang memungkinkan kita untuk buka tabungan cukup dengan smartphone.

Baca dulu postinganku tentang SOBATKU di sini

Nongkrong dan Ngantor di Urbanistbox

13 July 2017
Salam semua, 
Kalian pasti penasaran deh apa sih ini Urbanistbox ? kok bisa ngantor dan nongkrong maksudnya gimana ya ? hihihihi. Penjelasan singkatnya tuh Urbanistbox ini adalah semacam foodcourt area yang berlokasi di Jl Pelita Raya No 41. Tenant yang bergabung di dalamnya ada berbagai macam makanan dan minuman kekinian yang enak, segar dan lagi happening di Makassar. Selain itu ada juga tempat untuk kalian bisa berkantor di situ. 

Nabung Gak Pake Ribet, Cukup Buka Aplikasi Sobatku!

12 July 2017


Salam semua, 
Belakangan ini kebutuhan hidup saya mengalami peningkatan. Eh ini kaliamat awal kenapa agak berat begini ya? hahahaha tapi ya memang mau bahas tentang bang bing bung hei ayo nabung. Sebagai seorang istri, secara tidak langsung harus mulai belajar mengelola keuangan keluarga, ibaratnya jadi manager di rumahtangga. Ngatur pemasukan dari suami, dan pengeluaran per bulan sampai harus prediksi tahunannya. Harus bisa itu loh! apalagi setelah jadi Ibu, harus mempersiapkan biaya masa depan untuk anak mulai dari pendidikannya sampai kebutuhan lainnya juga. 

Shoping dan jajan buat emaknya gimana? HAHAHA mungkin gak akan ada bagian kalau kita gak pintar-pintar mengelola, dan yang lebih penting dari itu adalah menabung! Honestly saya orang yang tidak gemar menabung, bukan karena boros, biasa kok masukin beberapa lembar 20.000an ke dalam celengan tiap hari, tapi kemudian hari begitu cepat tergoda untuk mencungkil celengan sendiri. Otomatis membuat saya harus ikutan nabung di bank sama suami. Suami saya seorang penabung yang rajin dan aktif HAHAHA. 


Sebagian besar orang gak pernah benar-benar tahu kemana aja uang yang mereka belanjakan.  Saya juga mengalami itu loh, waktu gadis malah pola hidup saya tanpa perencanaan keuangan sedikit pun. Dapat gaji sekian juta, dihabisin juga selama sebulan itu, dan mikir, ah bulan depan kan gajian lagi, udah beli aja.. udah pakai aja.. 

Auto Post Signature